Label

Tampilkan postingan dengan label 9.PHSYCAL EVIDENCE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 9.PHSYCAL EVIDENCE. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Oktober 2010

LEKSREFLEKSI MEKANISASI PERTANIAN INDONESIA DI 65 KEMERDEKAAN

Mekanisasi pertanian adalah aplikasi mekanis berupa mesin atau alat pada proses produksi pertanian (dalam arti luas) baik on-farm maupun off-farm. Mekanisasi pertanian di Indonesia telah dilakukan sejak tahun. Mekanisasi pertanian yang tepat berperan sangat signifikan untuk peningkatkan kualitas dan kuantitas produksi pertanian serta pengolahannya. Mekanisasi pertanian mencakup keuntungan efisiensi, efektifitas, kualitas dan produktifitas pertanian. Kemudian berdampak sistemik pada kesejahteraan petani dan pemenuhan kebutuhan pangan , energi dan bahan produksi masyarakat.
Namun demikian sangat ironis, di tengah menjamurnya institusi penelitian (termasuk peneliti), pendidikan (termasuk orang terdidik), serta lembaga pemberdayaan masyarakat di bidang mekanisasi pertanian, saat itulah pula mekanisasi pertanian belum berkembang dan benar-benar termanfaatkan oleh masyarakat secara optimal. Saat ini alsintan lebih banyak “diadopsi” bukan “diadaptasi”. Jika sudah demikian, keuntungan-keuntungan di atas belum didapatkan. Lalu apa permasalahannya? Dan bagaimana solusinya? Tidak hanya bagi pemerintah, namun bagi akademisi/peneliti, pengusaha juga yang terpenting petani sendiri sebagai subjek utama.
Dalam tulisan ini akan dikaji secara komprehensif dari berbagai faktor penentu mekanisasi pertanian.
  1. 1. Ekonomi
Ekonomi adalah faktor yang paling diprioritaskan oleh petani dalam memutuskan pengunaan mesin pertanian (Al-Haq, 2009). Petani secara sendiri-sendiri merasa belum mampu dalam investasi alat dan mesin pertanian (jika mereka belum merasa sangat membutuhkannya). Hal ini tentu tidak akan terlalu berat jika kelembagaan kelompok tani, koperasi, ataupun Unit Pelayanan Jasa Alsintan masih banyak yang aktif. Karena dengan mengelompok, maka kemampuan beli petani serta biaya pemeliharaan akan terjangkau. Yang menjadi permasalahan adalah, pasca orde baru kelembagaan UPJA, KUD banyak yang bubar dan sampai saat ini banyak yang belum dibangun. Akhirnya alat mesin pertanian hanya dikuasai oleh petani kaya atau rentenir saja. Sebenarnya, dalam jangka panjang, ketika biaya variabel dapat menurun karena efisiensi waktu dan beberapa komponen biaya seperti tenaga kerja, ditambah dengan kenaikan pemasukan hasil penjualan karena produktifitas naik, maka secara otomatis besarnya biaya pokok akan turun dan pendapatan petani akan meningkat. Ini jika saja alsintan dapat digunakan.
  1. 2. Teknis
Hasil penelitian pada studi kasus alat mesin perontok padi, di lapangan ditemukan banyak sekali alat mesin hasil penyebaran proyek pemerintah yang tidak dapat digunakan karena bahannya sangat mudah rusak. Ini dikarenakan oleh “proyektor” yang nakal alias Makelar Proyek. Proyek dilakukan asal jalan dan menghabiskan anggran saja (sebab jika anggaran tidak habis, tahun depan kecil kemungkinan akan diberi lagi). Akhirnya alsintan diproduksi dengan asal-asalan. Ini jelas sangat merugikan petani.
  1. 3. Fungsional
Banyak data yang menyebutkan kapasitas suatu alsintan tinggi. Studi kasus pada alat perontok padi pedal thresher buatan Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian yang menurut data dijelaskan kapasitas 100 kg/jam. Namun faktanya, 25 kg/jam saja sulit, dan petani memilih menggunakan manual karena lebih mudah. Penelitian-penelitian dan percobaan kapasitas tidak dinormalisasi terlebih dahulu. Kapasitas 100 kg mungkin jika digunakan oleh petani yang sudah terbiasa, namun bagi yang belum terbiasa, akan sulit. Disinilah perlunya pembiasaan penggunaan alsintan (teknologi baru).
  1. 4. Ergonomi
Beberapa alsintan dirasakan petani tidak ergonomis. Hal ini disebabkan alsintan hanya diasopsi, bukan diadaptasi. Alsintan dari luar apalagi impor tentunya secara ergonomi belum tentu sesuai dengan antropometri masyarakat di berbagai daerah di Indonesia. Disinilah diperlukan adaptasi dan modifikasi alsintan agar sesuai dengan kondisi masyarakat di setiap daerah di Indonesia.
  1. 5. Kesehatan dan keselamatan kerja
Pekerjaan yang tidak tersentuk aspek kesehatan dan keselamatan  adalah pertanian subsistem petani kecil. Berbeda dengan industri non-pertanian yang sangat memperhatikan kesehatan dan keselamatan kerja (K3). Kalaupun ada, K3 hanya dilakukan pada perusahan pertanian level besar. Sedangkan petani kecil di lahan tidak pernah diprioritaskan menggunakan sepatu but ketika ke lahan, menggunakan masker ketika menyemprot pestisida, petani cenderung tak berpakaian lengkap ketika bekerja. Padahal resiko kecelakaan kerja di lahan sangat besar. Pemerintahpun belum menuju kea rah sana sepertinya. Jika sudah seperti ini, pertanian terus dianggap pekerjaan yang rendahan. Padahal jika alsintan akan dikembangkan, maka aspek K3 harus disertakan karena resiko kesehatan dan keselamatan pada saat menggunakan alat mesin lebih besar dibandingkan manual.
  1. 6. Kondisi lapangan
Mekanisasi pertanian terhambat oleh kondisi lahan petani Indonesia yang hanya 0,2 ha/orang. Kondisi ini dipersulit lagi dengan ketidakkompakan petani dalam menanam dan masa tanam. Teringat dulu ketika orde baru petani sangat kompak dalam menanam dan masa tanam. Padahal jika saat inipun petani kompak dalam masa tanam, maka luasan tanah yang 0,2 ha bisa menjadi 2-3 ha, di mana alsintan akan mudah masuk dan efisien akhirnya. Lagi pula sebenarnya masa tanam yang serempak dapat mengurangi penyebaran hama penyakit.
Selain luasan tanah yang sempit, kondisi lapangan yang berbukit-bukit menyebabkan alsintan sulit masuk ke lahan. Dari dua permasalahan tadi, solusi terbaiknya adalah adanya konsolidasi lahan. Jika sudah seperti ini mau tidak mau petani harus mengurangi egoismenya untuk saling “aku dan aku” (ini tanahku, terserah aku mau tanam apa dan kapan”.
  1. 7. Fasilitas penunjang operasi
Alsintan membutuhkan fasilitas penunjang operasi untuk dapat digunakan dengan baik. Fasilitas itu adalah BBM, suku cadang, perbengkelan, operator dan jalan akses transportasi alsintan. Pada faktanya, BBM sulit didapatkan, terlebih setelah adanya PP No 09 2006 dimana tidak diperbolehkan membeli bensin selain kendaraan bermotor. Jika ada pun BBM di daerah pedesaan harganya sudah lebih mahal (Rp. 5500/lt bensin) dan itu pun tidak dipastikan murni bensin. Suku cadang alsintan lebih banyak produk luar negeri dan harus diimpor jika ada kerusakan. Inilah penjajahan bentuk baru luar negeri. Sampai saat ini merek-merek yang digunakan adalah merek luar negeri  untuk alsintan dan mesin. Padahal sudah banyak hasil riset alsintan. Penyebabnya adalah karena pengusaha tidak berani berinvestasi untuk produk anak bangsa sendiri.
Selain itu fasilitas paling penting untuk aksesibilitas alsintan adalah jalan pertanian yang memadai. Saat ini di beberapa daerah belum memiliki fasiltas jalan pertanian yang dapat dengan mudah alsintan masuk ke lahan. Ini juga yang menjadi alasan para petani enggan menggunakan alsintan, karena mereka merasa kerepotan dalam mengangkut ke lahan.

http://fikrialhaq.wordpress.com/

SISTEM MANUSIA MESIN

Fokus perhatian ergonomi adalah berkaitan erat dengan aspek-aspek manusia di dalam perencanaan man-made objects (proses perancangan produk) dan lingkungan kerja. Pendekatan agro ergonomi akan ditekankan pada penelitian kemampuan keterbatasan manusia, baik secara fisik maupun mental psikologis dan interaksinya dalam sistem manusia-mesin yang integral. Maka, secara sistematis pendekatan ergonomi kemudian akan memanfaatkan informasi tersebut untuk tujuan rancang bangun, sehingga akan tercipta produk, sistem atau lingkungan kerja yang lebih sesuai dengan manusia. Pada gilirannya rancangan yang ergonomis akan dapat meningkatkan efisiensi, efektifitas dan produktivitas kerja, serta dapat menciptakan sistem serta lingkungan kerja yang cocok, aman, nyaman dan sehat.

Disini kita akan membahas sedikit mengenai bagaimana agro ergonomi dapat meningkatkan produktivitas petani. Upaya peningkatan produktivitas petani secara terus-menerus dan menyeluruh merupakan hal yang penting tidak saja berlaku bagi setiap individu petani, juga bagi instansi yang terkait di sektor pertanian. Dengan peningkatan produktivitas maka tanggung jawab manajemen akan terpusat pada upaya dan daya untuk melaksanakan fungsi dan peran dalam kegiatan produksi. Khususnya yang bersangkut-paut dengan efisiensi penggunaan sumber-sumber input. Pendekatan agro ergonomi akan memainkan peran yang penting dalam upaya meningkatkan produktivitas petani. Beberapa peneliti di bidang ergonomi telah melakukan upaya ke arah tersebut. Seperti pada penelitian dengan memodifikasi meja pengumpan dan menambah peredam kebiasaan pada mesin perontok padi, dapat meningkatkan produktivitas kerja petani sebesar 46,49% (Sucipta, 2004). Sedangkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Sutjana (1998) yaitu produktivitas kerja penyabit padi menggunakan sabit bergigi lebih tinggi dibandingkan dengan menggunakan sabit biasa dan berbeda bermakna setelah lima belas menit pertama, dan hasil penelitian Erawan (2002) bahwa produktivitas kerja operator traktor dari perbaikan rancang bangun handel yang mengacu aspek antropometri meningkat sebesar 23,25%. Contoh lain dari aplikasi disiplin ergonomi juga bisa dilihat dalam proses perancangan peralatan kerja untuk penggunaan yang lebih efektif. Perkakas kerja seperti sabit atau cangkul misalnya dengan pegangan (handle) yang berbentuk kurva pada dasarnya merupakan hasil dari human engineering studies. Desain handle yang berbentuk kurva — dan disesuaikan dengan bentuk genggaman tangan — akan memudahkan cara pengoperasian peralatan tersebut. Dengan demikian ergonomi adalah suatu cabang keilmuan yang sistematis untuk memanfaatkan informasi-informasi mengenai sifat, kemampuan dan keterbatasan manusia untuk merancang suatu sistem kerja, sehingga orang dapat hidup dan bekerja pada sistem tersebut dengan baik; yaitu mencapai tujuan yang diinginkan melalui pekerjaan itu dengan efektif, efisien, aman dan nyaman. Sistem kerja di sini dimaksudkan sistem hubungan manusia-mesin (teknologi) yang dipertimbangkan sebagai sistem yang terpadu. Kalau di saat yang lalu perancangan mesin semata-mata ditekankan pada kemampuannya untuk berproduksi semata dengan atau sedikit sekali memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan elemen manusia maka sekarang dengan ergonomi proses perancangan mesin akan memperhatikan aspek-aspek manusia dalam interaksinya dengan mesin secara lebih baik lagi. Dengan kata lain di sini manusia tidak lagi harus menyesuaikan dirinya dengan mesin yang dioperasikan melainkan sebaliknya, mesin dirancang dengan terlebih dulu memperhatikan kelebihan dan keterbatasan manusia yang mengoperasikannya. Manusia yang merupakan salah satu komponen dari suatu sistem kerja dengan segala aspek, sifat dan tingkah lakunya merupakan makhluk yang kompleks. Untuk mempelajari manusia, tidak cukup ditinjau dari satu segi ilmu saja. Oleh sebab itulah maka untuk mengembangkan ergonomi memerlukan dukungan dari berbagai disiplin keilmuan seperti kedokteran (faal/anatomi), psikologi, antropologi, biologi, di samping berbagai disiplin teknologi lainnya. Pendekatan khusus ergonomi ialah aplikasi yang sistematif dari segala informasi yang relevan, yang berkaitan dengan karakteristik dan perilaku manusia di dalam perancangan peralatan, fasilitas dan ingkungan kerja yang dipakai.

Proses kognitif dalam diri manusia terdiri dari :

Sensasi – persepsi – perhatian - berpikir – mengambil keputusan - memori - motivasi

1. Sensasi

Tahap paling awal dalam penerimaan informasi
Sensasi berasal dari kata “sense”,
alat penginderaan yang menghubungkan organisme dengan lingkungannya.

Proses sensasi : proses ketika alat-alat indera mengubah informasi menjadi impuls-impuls syaraf dengan bahasa yang dipahami oleh otak maka terjadilah (Dennis Coon, 1977).
Sensasi adalah pengalaman elementer yang segera, yang tidak membutuhkan penguraian verbal, simbolis, maupun konseptual, dan terutama sekali berhubungan dengan alat indera (Benyamin B. Wolman, 1973).
2. Persepsi

Definisi :

Persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan.
Persepsi ialah memberikan rnakna pada stimuli inderawi (sensory stimuli). Sensasi adalah bagian dari stimuli. Walaupun begitu, menafsirkan makna informasi inderawi tidak hanya melibatkan sensasi, tetapi juga atensi, ekspektasi, motivasi dan memori (Desiderato, 1976).
Yang mempengaruhi persepsi :

Persepsi seperti halnya sensasi, ditentukan oleh faktor- faktor :

Faktor Personal dan Faktor situasional. David Krech & Richard S. Crutchfield (1977) menyebutnya faktor fungsional dan struktural.
Faktor perhatian (Rachmat, 1992).
3. Perhatian

Perhatian adalah proses mental ketika stimuli atau rangkaian stimuli menjadi menonjol dalam kesadaran pada saat stimuli lainnya melemah (Kennerth E. Andersen, 1972).

Perhatian terjadi bila kita mengkonsentrasikan diri pada salah satu alat indera kita, dan mengesampingkan masukan-masukan dari indera lainnya.

4. Berpikir

Berpikir merupakan proses yang mempengaruhi penafsiran terhadap stimuli. Dalam berpikir digunakan lambang grafis (graphic symbols) maupun lambang verbal (verbal symbols). Keduanya merupakan representasi objek atau peristiwa; artinya menggantikan objek atau peristiwa dalam benak.

Berpikir merupakan manipulasi atau organisasi unsur-unsur lingkungan dengan menggunakan lambang-lambang sehingga tidak perlu langsung melakukan kegiatan yang tampak (Ruch, 1967).

Berpikir dilakukan untuk memahami realitas dalam rangka:

mengambil keputusan (decision making)
memecahkan persoalan (problem solving)
menghasilkan yang baru (creativity)
5. Pusat Pengambilan Keputusan

Sekali informasi dipahami, sebuah keputusan harus diambil, yaitu apa yang seharusnya dilakukan berkaitan dengan hal tersebut.

Hal itu digunakan sebagai pemicu respon segera atau dimasukkan sebagai bagian dari pemrosesan memori.

Informasi mungkin secara berkesinambungan masuk dan dipanggil dari memori untuk membantu pemrosesan keputusan.

Pada bagian ini keputusan dibuat apakah akan :

menyimpan informasi Ini dalam rentang waktu yang pendek dalam memori jangka pendek (working memory) dengan secara aktif melatih atau mengulang secara internal,

atau berusaha mempelajari informasi tersebut dan disimpan secara permanen dalam memori jangka panjang.

6. Memori

Memori adalah sistem yang sangat terstruktur, yang menyebabkan organisme sanggup merekam fakta tentang dunia dan menggunakannya untuk membimbing perilakunya (Scheessinger & Groves, 1976).

Setiap saat stimuli mengenai indera kita. Setiap saat pula stimuli direkam secara sadar maupun tidak.

Secara singkat memori melewati tiga proses (Mussen & Rosenzweig, 1973):

Perekaman (encoding), pencatatan informasi melalui reseptor indera dan sirkuit syaraf internal
Penyimpanan (storage), menentukan berapa lama informasi dipertahankan, dalam bentuk apa, dan dimana. Penyimpanan bisa bersifat aktif maupun pasif Aktif jika terjadi penambahan informasi.
Pemanggilan (retrieval), mengingat lagi dan menggunakan informasi yang disimpan
7. Motivasi

Motivasi lebih diartikan sebagai tingkah laku yang mengarah pada tujuan. Ini didasari oleh dua konsep dasar, yaitu kebutuhan yang berasal dari orang itu sendiri dan tujuan di lingkungan di mana orang itu berada.

Dalam bentuknya yang paling mudah, motivasi diawali oleh adanya kebutuhan yang belum terpuaskan. Tujuan ditetapkan untuk memuaskan kebutuhan. Dan dilakukan aksi-aksi dalam proses pencapaian suatu tujuan. Tetapi, pada saat telah terpuaskan, kebutuhan baru muncul dan terjadilah lingkaran berkelanjutan.

Motivasi berasal dan kata latin movere yang berarti menggerakkan (to move). Vroom (1964) menyatakan bahwa motivasi adalah suatu proses yang mengatur pilihan pilihan yang dibuat oleh seseorang di antara berbagai bentuk alternatif dari kegiatan sukarela.

Glueck (1978) mengatakan bahwa motivasi adalah suatu rangkaian atribut yang mendorong seseorang untuk bertindak dalam suatu cara yang spesifik, yang mengarah pada tujuan.

Motivasi adalah keadaan individual yang memberi energi, menyalurkan dan mendorong perilaku manusia untuk mencapai tujuan.

Newstorm (1990) mengatakan bahwa motivasi berhubungan dengan kekuatan dan arah tingkah laku.

Dari definisi-definisi di atas dapat dilihat bahwa motivasi berkaitan dengan:

Apa yang menggerakkan perilaku manusia
Apa yang mengarahkan penyaluran perilaku itu
Bagaimana mengarahkan perilaku ini


Motivasi kerja dapat dibedakan dalam dua bentuk.

Internal : dari dalam dirinya

seseorang dapat memotivasi dirinya sendiri dengan melihat, mencari, melakukan suatu pekerjaan yang memuaskan kebutuhan atau setidaknya membawa mereka mencapai tujuannya.

Eksternal : dari luar dirinya

seseorang dapat dimotivasi oleh suatu organisasi melalui beberapa metode seperti gaji, promosi, kebanggaan, dan sebagainya (Michael Amstrong, 1993).

8. Ekspektasi Dorongan

Istilah ekspektasi dorongan (Driving Ekspectancy/DE) berasal dari ilmu psikologi, yaitu suatu proses bagi seseorang dengan ide dan konsep yang sudah mapan pada dirinya, dihadapkan pada sebuah stimulus dan melakukan reaksi (respon) terhadap Stimulus tersebut dengan melakukan berbagai cara.

Jika stimulus tersebut sesuai dengan DE seseorang, maka tidak ada konflik yang terjadi dan reaksi orang itu diharapkan merupakan reaksi yang tepat. Sebaliknya, jika situasinya tidak sesuai dengan yang diharapkan dalam DE, maka timbul ketidakpastian, dan respon yang timbul mungkin tidak sesuai dengan stuasinya, atau tidak ada respon sama sekali (Bailey, 1988).

9. Kecepatan dan Ketelitian

Yang dimaksud dengan kecepatan di sini adalah berkaitan dengan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan.

Sedangkan ketelitian adalah jumlah kesalahan yang dilakukan per satuan waktu, ini berhubungan dengan gerakan-gerakan dalam pencarian ‘jejak’ (untuk pekerjaan yang memerlukan pengawasan terus-menerus, pada saat melakukan suatu tindakan yang memerlukan ketelitian dan pengawasan, dan pada saat melakukan kegiatan yang manipulatif).

Berbeda dari waktu reaksi yang dibatasi secara psikologis, ketelitian lebih ditekankan pada pengendalian manusia.


http://grace-ergonomi.blogspot.com/

upah dan Peranannya terhadap Motivasi dan Kepuasan Dalam Meningkatkan Kinerja Pekerja Perusahaan


upah dan Peranannya terhadap  Motivasi dan Kepuasan
Dalam Meningkatkan Kinerja Pekerja Perusahaan



Sistem upah dirasakan adil dan kompetitif oleh karyawan, maka perusahaan akan lebih mudah untuk menarik pekerja yang potensial, mempertahankannya dan memotivasi agar lebih meningkatkan kinerjanya, sehingga produktivitas meningkat dan perusahaan mampu menghasilkan produk dengan harga yang kompetitif, yang pada akhirnya, perusahaan bukan hanya unggul dalam persaingan, namun juga mampu mempertahankan kelangsungan hidupnya, bahkan mampu meningkatkan profitabilitas dan mengembangkan usahanya. Upah cenderung mempengaruhi secara langsung motivasi dan kepuasan kerja akan membentuk kinerja yang baik, selanjutnya dengan kinerja yang baik dari pekerja pada gilirannya akan mempengaruhi efisiensi dan provitabilitas perusahaan.
Kata kunci : Upah , Motivasi , Kepuasan dan Kinerja

http://dadangrusnandar.blogspot.com/

Manajemen sdm/kinerja karyawan


Bicara tentang sumber daya manusia tentu tidak lepas dari manusia-nya itu sendiri beserta dengan atribut-atribut uniknya mulai dari aspek fisik hingga aspek psikologis. Satu hal yang paling menonjol dari manusia adalah makhluk yang komunal, dimana setiap individu selalu membutuhkan individu yang lain untuk saling berinteraksi.
Nah, secara garis besar sangat penting sekali mempelajari segala sesuatu tentang manusia dengan tujuannya masing-masing baik untuk meningkatkan efektifitas organisasi di sektor pemeritahan, swasta maupun perusahaan. Berbagai disiplin ilmu telah menyumbang penelitian tentang manusia mulai dari psikologi, sosiologi, antropologi dan lain sebagainya. Di lingkungan akademik, penelitian-penelitian semacam itu sangat diperlukan sekali guna mengembangkan kompetensi peserta didik, biasanya diwujudkan dalam bentuk laporan karya tulis berupa Tugas Akhir, Tesis, Disertasi dan lain sebagainya.
Tesis sendiri secara harfiah adalah karya tulis dari hasil studi sistematis atas masalah. Tesis mengandung metode pengumpulan, analisis dan pengolahan data, dan menyajikan kesimpulan serta mengajukan rekomendasi. Orisinalitas dari tesis harus nampak, menunjukkan pemikiran yang bebas dan kritis.
Tesis bersifat argumentatif dan dihasilkan dari suatu proses penelitian yang memiliki bobot orisinalitas tertentu. Biasanya penulisan tesis mensyaratkan hal-hal sebagai berikut :
·         Kejelasan argumen.
·         Bobot argumentasi .
·         Kemudahan untuk difahami setidaknya oleh komunitas akademis .
·         Kegunaan praktis untuk masyarakat dan profesi.
Tesis senantiasa mengasumsikan adanya argumentasi teoritis tertentu yang diacu. Penelitian tesis sendiri berupa pengajuan suatu teori baru, pengujian penerapan teori, assessment teori yang telah didokumentasikan. Argumentasi harus jelas dan eksplisit jadi akan menambah pengetahuan pembaca. Argumentasi yang disajikan dengan bagus, tercermin dari kajian litaratur dan data pendukung.
Sayangnya, keterbatasan materi dan referensi penulisan tesis menjadi kendala tersendiri bagi mahasiswa. Sementara rentang waktu yang disediakan oleh pihak universitas biasanya tidak sebanding dengan topik penelitian yang diambil oleh mahasiswa atau dengan kata lain waktunya tidak mencukupi. Disisi lain penulisan tesis di sebagian besar universitas menjadi syarat mutlak kelulusan bagi para peserta didiknya.
Menyikapi kondisi tersebut, kami menyediakan solusi bagi anda.Disini kami menyediakan contoh tesis khusus mengenai topik Manajemen Sumber Daya Manusia, untuk anda jadikan referensi sebagai bahan penulisan tesis anda.
Dengan semakin banyak referensi, contoh penulisan dan materi tentu saja semakin terbantu anda dalam menyusun tesis khususnya untuk topik Manajemen Sumber Daya Manusia. Sehingga proses penyusunan tesis anda bisa menjadi lebih cepat, hemat waktu, tenaga dan biaya.



Bicara tentang sumber daya manusia tentu tidak lepas dari manusia-nya itu sendiri beserta dengan atribut-atribut uniknya mulai dari aspek fisik hingga aspek psikologis. Satu hal yang paling menonjol dari manusia adalah makhluk yang komunal, dimana setiap individu selalu membutuhkan individu yang lain untuk saling berinteraksi.
Nah, secara garis besar sangat penting sekali mempelajari segala sesuatu tentang manusia dengan tujuannya masing-masing baik untuk meningkatkan efektifitas organisasi di sektor pemeritahan, swasta maupun perusahaan. Berbagai disiplin ilmu telah menyumbang penelitian tentang manusia mulai dari psikologi, sosiologi, antropologi dan lain sebagainya. Di lingkungan akademik, penelitian-penelitian semacam itu sangat diperlukan sekali guna mengembangkan kompetensi peserta didik, biasanya diwujudkan dalam bentuk laporan karya tulis berupa Tugas Akhir, Tesis, Disertasi dan lain sebagainya.
Tesis sendiri secara harfiah adalah karya tulis dari hasil studi sistematis atas masalah. Tesis mengandung metode pengumpulan, analisis dan pengolahan data, dan menyajikan kesimpulan serta mengajukan rekomendasi. Orisinalitas dari tesis harus nampak, menunjukkan pemikiran yang bebas dan kritis.
Tesis bersifat argumentatif dan dihasilkan dari suatu proses penelitian yang memiliki bobot orisinalitas tertentu. Biasanya penulisan tesis mensyaratkan hal-hal sebagai berikut :
·         Kejelasan argumen.
·         Bobot argumentasi .
·         Kemudahan untuk difahami setidaknya oleh komunitas akademis .
·         Kegunaan praktis untuk masyarakat dan profesi.
Tesis senantiasa mengasumsikan adanya argumentasi teoritis tertentu yang diacu. Penelitian tesis sendiri berupa pengajuan suatu teori baru, pengujian penerapan teori, assessment teori yang telah didokumentasikan. Argumentasi harus jelas dan eksplisit jadi akan menambah pengetahuan pembaca. Argumentasi yang disajikan dengan bagus, tercermin dari kajian litaratur dan data pendukung.
Sayangnya, keterbatasan materi dan referensi penulisan tesis menjadi kendala tersendiri bagi mahasiswa. Sementara rentang waktu yang disediakan oleh pihak universitas biasanya tidak sebanding dengan topik penelitian yang diambil oleh mahasiswa atau dengan kata lain waktunya tidak mencukupi. Disisi lain penulisan tesis di sebagian besar universitas menjadi syarat mutlak kelulusan bagi para peserta didiknya.
Menyikapi kondisi tersebut, kami menyediakan solusi bagi anda.Disini kami menyediakan contoh tesis khusus mengenai topik Manajemen Sumber Daya Manusia, untuk anda jadikan referensi sebagai bahan penulisan tesis anda.
Dengan semakin banyak referensi, contoh penulisan dan materi tentu saja semakin terbantu anda dalam menyusun tesis khususnya untuk topik Manajemen Sumber Daya Manusia. Sehingga proses penyusunan tesis anda bisa menjadi lebih cepat, hemat waktu, tenaga dan biaya.


Bicara tentang sumber daya manusia tentu tidak lepas dari manusia-nya itu sendiri beserta dengan atribut-atribut uniknya mulai dari aspek fisik hingga aspek psikologis. Satu hal yang paling menonjol dari manusia adalah makhluk yang komunal, dimana setiap individu selalu membutuhkan individu yang lain untuk saling berinteraksi.
Nah, secara garis besar sangat penting sekali mempelajari segala sesuatu tentang manusia dengan tujuannya masing-masing baik untuk meningkatkan efektifitas organisasi di sektor pemeritahan, swasta maupun perusahaan. Berbagai disiplin ilmu telah menyumbang penelitian tentang manusia mulai dari psikologi, sosiologi, antropologi dan lain sebagainya. Di lingkungan akademik, penelitian-penelitian semacam itu sangat diperlukan sekali guna mengembangkan kompetensi peserta didik, biasanya diwujudkan dalam bentuk laporan karya tulis berupa Tugas Akhir, Tesis, Disertasi dan lain sebagainya.
Tesis sendiri secara harfiah adalah karya tulis dari hasil studi sistematis atas masalah. Tesis mengandung metode pengumpulan, analisis dan pengolahan data, dan menyajikan kesimpulan serta mengajukan rekomendasi. Orisinalitas dari tesis harus nampak, menunjukkan pemikiran yang bebas dan kritis.
Tesis bersifat argumentatif dan dihasilkan dari suatu proses penelitian yang memiliki bobot orisinalitas tertentu. Biasanya penulisan tesis mensyaratkan hal-hal sebagai berikut :
·         Kejelasan argumen.
·         Bobot argumentasi .
·         Kemudahan untuk difahami setidaknya oleh komunitas akademis .
·         Kegunaan praktis untuk masyarakat dan profesi.
Tesis senantiasa mengasumsikan adanya argumentasi teoritis tertentu yang diacu. Penelitian tesis sendiri berupa pengajuan suatu teori baru, pengujian penerapan teori, assessment teori yang telah didokumentasikan. Argumentasi harus jelas dan eksplisit jadi akan menambah pengetahuan pembaca. Argumentasi yang disajikan dengan bagus, tercermin dari kajian litaratur dan data pendukung.
Sayangnya, keterbatasan materi dan referensi penulisan tesis menjadi kendala tersendiri bagi mahasiswa. Sementara rentang waktu yang disediakan oleh pihak universitas biasanya tidak sebanding dengan topik penelitian yang diambil oleh mahasiswa atau dengan kata lain waktunya tidak mencukupi. Disisi lain penulisan tesis di sebagian besar universitas menjadi syarat mutlak kelulusan bagi para peserta didiknya.
Menyikapi kondisi tersebut, kami menyediakan solusi bagi anda.Disini kami menyediakan contoh tesis khusus mengenai topik Manajemen Sumber Daya Manusia, untuk anda jadikan referensi sebagai bahan penulisan tesis anda.
Dengan semakin banyak referensi, contoh penulisan dan materi tentu saja semakin terbantu anda dalam menyusun tesis khususnya untuk topik Manajemen Sumber Daya Manusia. Sehingga proses penyusunan tesis anda bisa menjadi lebih cepat, hemat waktu, tenaga dan biaya.


http://tesdm.co.cc/

Tentang Review Fisik B

Physical Review B adalah yang paling komprehensif dan terbesar jurnal internasional yang mengkhususkan diri dalam hal terkondensasi dan fisika bahan, penerbitan surat-surat penting pada berbagai topik . Kami memiliki faktor dampak dari 3,475 (2009) dan menempati peringkat nomor satu di kutipan total dalam fisika benda terkondensasi. * The editor dari PRB terutama penuh-waktu staf di Ridge, New York kantor di Long Island, yang berdedikasi untuk mengelola sebuah proses yang adil dan menyeluruh review. Lain, termasuk peneliti aktif dan mantan staf Ridge, bekerja jarak jauh dari titik di seluruh dunia. Kami memiliki standar tinggi untuk kualitas kertas kami publikasikan dan wasit yang membantu kami. Kami Rapid Komunikasi Bagian ini berisi halaman makalah empat dari kaliber tertinggi yang dianggap oleh para editor menjadi penting cukup untuk menjamin dan prioritas penanganan khusus diberikan ke kertas diajukan sana. Kami adalah sumber unggulan untuk detail artikel reguler yang komprehensif yang menjadi andalan komunikasi ilmiah. Brief kami Laporan Bagian ini berisi makalah singkat berkomunikasi hasil yang signifikan dan lengkap yang tidak memerlukan penjelasan rinci. Silakan email feedback@aps.org jika anda memiliki saran atau umpan balik tentang bagaimana PRB beroperasi atau halaman web kami. Untuk yang terkait dengan naskah komentar atau pertanyaan, silahkan email prb@aps.org .
Sebagai layanan untuk kedua pembaca dan penulis, kami daftar sejumlah kecil makalah yang diterbitkan dalam PRB bahwa editor dan wasit menemukan kepentingan tertentu, kepentingan, atau kejelasan. Ini Editors 'Saran kertas ditandai dengan ikon khusus yang berisi printer menandai yang muncul di sampul semua bagian dari Review Fisik sampai sekitar satu dekade yang lalu.
PRB muncul bulanan dalam dua bagian, B1 dan B15, setiap bagian ini dibagi lagi menjadi dua bagian.
B1: Struktur, fase transisi, ferroelectrics, sistem nonordered, cairan, padat kuantum, magnetisme, superkonduktivitas, superfluiditas
B15: struktur Elektronik, kristal fotonik, semikonduktor, sistem mesoscopic, permukaan, cluster, fullerenes, graphene, nanosains
* 2009 Kutipan SCI Jurnal Laporan, Institute for Scientific Information


http://prb.aps.org/